Kalam.

Tabuik, Duka yang Diarak ke Laut

Setiap tahun di Pariaman, sebuah usungan raksasa diarak lalu dilarung ke laut. Inilah kisah Tabuik — perkawinan duka Karbala dengan tanah Minang.

Tiap kali bulan Muharram tiba, langit Pariaman seperti menahan napas. Di tepi Pantai Gandoriah, ribuan orang berkumpul menunggu satu hal: detik ketika sebuah bangunan tinggi berwarna-warni — disebut tabuik — diangkat beramai-ramai, diarak menyusuri kota, lalu dilemparkan ke laut. Tradisi ini sudah berjalan sejak 1831, dan sampai hari ini ia tetap jadi denyut paling kuat dari budaya pesisir Minangkabau.

Dari Karbala ke pesisir Sumatra

Tabuik lahir dari peristiwa duka yang jauh, baik dalam jarak maupun waktu: gugurnya Husain, cucu Nabi Muhammad, di padang Karbala. Peringatan atas kematian itu dibawa ke Pariaman oleh pasukan Muslim Syiah asal India yang ditempatkan di sini pada masa kekuasaan Inggris di pesisir barat Sumatra. Mereka menetap, menikah, dan membaur — dan tradisi yang mereka bawa ikut berakar.

Yang menarik, meski asal-usulnya dari ritual Syiah, hampir seluruh penduduk Pariaman yang menjalankannya hari ini adalah penganut Sunni. Tabuik sudah lama berhenti menjadi urusan mazhab. Ia berubah jadi milik bersama, jadi penanda identitas kota.

Kata "tabuik" sendiri berasal dari bahasa Arab tabut — peti kayu. Di Bengkulu, tradisi serupa dikenal dengan nama Tabot.

Sepuluh hari penuh ritual

Tabuik bukan acara satu malam. Ia adalah rangkaian panjang yang dimulai pada hari pertama Muharram dan memuncak pada hari kesepuluh.

  • 1 Muharram — tanah diambil dari sungai, dibungkus kain putih, lalu disimpan. Ini melambangkan kuburan Husain.
  • 5 Muharram — sebatang pohon pisang ditebang sekali tebas, lambang keberanian putra Husain yang menuntut balas.
  • 7–8 Muharram — prosesi Maatam dan Maarak Sorban, menggambarkan jari-jari Husain yang berserakan dan keberaniannya melawan musuh.
  • 10 Muharram — tabuik dinaikkan ke puncaknya, diarak, lalu akhirnya dibuang ke laut.

Setiap tahap punya makna. Tidak ada gerakan yang sekadar tontonan; semuanya menceritakan ulang satu kisah kematian yang dijaga ingatannya selama hampir dua abad.

Dua tabuik, satu kota

Dulu Pariaman hanya punya satu tabuik. Sekitar 1915, atas permintaan sebagian masyarakat, lahirlah pembagian: Tabuik Pasa di sisi selatan sungai, dan Tabuik Subarang di seberang utara. Keduanya kadang dibuat dengan tata cara yang sedikit berbeda, tapi tujuannya sama — memuliakan arwah cucu Nabi.

Puncaknya selalu dramatis. Dalam ritual Basalisiah, kedua kubu seolah saling serang, melempar gendang tasa hingga terjadi bentrokan. Sekilas tampak seperti permusuhan, padahal itu hanyalah cara menghidupkan kembali kisah perang Karbala. Begitu matahari condong ke barat, kedua tabuik diarak ke Pantai Gandoriah dan dilarung — duka yang akhirnya dikembalikan ke laut.

Dari upacara adat ke panggung wisata

Sejak 1982, Tabuik resmi masuk kalender pariwisata Pariaman. Apa yang dulunya ritual lokal kini menarik turis domestik maupun mancanegara. Sebagian orang khawatir komersialisasi akan mengikis maknanya, tapi kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya: panggung yang lebih besar membuat lebih banyak orang mengenal nilai di baliknya.

Tabuik bertahan bukan karena ia tontonan yang meriah, melainkan karena ia berhasil melakukan satu hal yang sulit — mengubah duka yang jauh menjadi milik sebuah kota, lalu menjaganya hidup dari generasi ke generasi.