Tabut: Jejak Duka Karbala yang Mengalir ke Nusantara
Menelusuri sejarah dan makna Tabut, ritual peringatan syahidnya Husein bin Ali yang berkelana dari Irak hingga menetap di Bengkulu dan Pariaman.
Ada sebuah kesedihan purba yang melintasi samudera, menyeberangi benua, dan akhirnya berakar di tanah Nusantara. Kesedihan itu bukan sekadar air mata, melainkan sebuah ritual megah bernama Tabut. Bagi mereka yang menyaksikannya, Tabut adalah perpaduan antara duka yang sakral, kemeriahan karnaval, dan pengingat akan tragedi berdarah di Padang Karbala, Irak, ratusan tahun silam.
Ritual ini lahir dari rasa cinta dan kehilangan atas syahidnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, pada 10 Muharram 61 Hijriah. Sebuah peristiwa yang mengukir luka mendalam dalam sejarah Islam, namun anehnya, luka itu justru menjelma menjadi identitas budaya yang hidup di beberapa wilayah Indonesia.
Perjalanan Panjang Sang Tradisi
Kisah Tabut di Nusantara adalah kisah tentang pelarian dan dakwah. Sejarah mencatat bagaimana kehancuran Baghdad oleh bangsa Mongol pada abad ke-13 memicu gelombang migrasi para ulama dan pelaut dari Punjab dan Jazirah Arab. Mereka membawa iman, ilmu, dan kenangan tentang Karbala.
Salah satu jejak kuat tertanam di Bengkulu. Konon, tradisi ini dibawa oleh Imam Maulana Ichsad pada tahun 1336 M, meski kemudian dipopulerkan kembali oleh Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo pada abad ke-17. Menariknya, Tabut bukan sekadar urusan religi, tapi juga persinggungan budaya. Kehadiran tentara sepoy dari Benggala yang dibawa Inggris turut mewarnai prosesi ini, memberikan sentuhan musik dan doa-doa dalam bahasa Urdu yang eksotis, meski sempat terjadi gesekan nilai dengan tradisi lokal.
Simbolisme dalam Rupa dan Bunyi
Tabut bukan sekadar benda, melainkan simbol. Struktur megahnya dibangun dengan ketelitian menggunakan bambu, rotan, dan hiasan kertas warna-warni yang memanjakan mata. Setiap detailnya, mulai dari bendera panji-panji hijau hingga replika pedang Zulfikar, bercerita tentang keberanian dan perjuangan.
Suasana ritual ini semakin hidup dengan dentuman alat musik khas:
- Dhol: Bedug besar dari kayu dan kulit lembu yang memberikan detak jantung pada prosesi.
- Tessa: Alat musik serupa rebana dari logam yang memberikan aksen nyaring di sela-sela tabuhan.
Tak hanya visual dan audio, Tabut juga melibatkan rasa melalui kenduri dan sesaji. Penggunaan ketan, tebu, hingga kemenyan menunjukkan betapa Islam di Nusantara mampu berdialog dengan tradisi lokal tanpa kehilangan esensinya.
Antara Sakralitas dan Festival
Ada benang merah yang menghubungkan Tabut di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman. Keduanya bermuara pada satu titik: membuang struktur Tabut ke laut (atau rawa-rawa di Bengkulu) sebagai simbol pelepasan. Namun, di balik kemeriahannya, Tabut menyimpan pesan moral yang dalam.
"Ritual ini adalah pengingat bahwa kekuasaan yang diraih dengan menghalalkan segala cara hanya akan menyisakan tragedi."
Prosesi 'mengambik tanah', misalnya, bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi filosofis bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Namun, tantangan zaman kini membayangi. Ada kekhawatiran bahwa Tabut perlahan bergeser dari ritual yang penuh renungan menjadi sekadar festival budaya yang kehilangan "ruh"-nya. Ketika nilai sakralitas terkikis oleh modernisasi, Tabut terancam menjadi tontonan tanpa makna, sebuah pesta tanpa doa.
Menjaga Tabut berarti menjaga ingatan. Ingatan tentang cinta, pengorbanan, dan bagaimana sebuah duka dari tanah Irak bisa menjadi perekat sosial bagi masyarakat di pesisir Sumatera.